Minggu, 10 April 2022

Aksi Nyata - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Peristiwa (Fact)

Sesuai dengan visi sekolah, yaitu “Menjadikan Sekolah yang Berprestasi Bidang Akademik maupun Non Akademik Berdasarkan Iman dan Taqwa”, SDN 2 Purwawinangun mempunyai berbagai program yang berdampak kepada murid. Salah satunya yaitu Program Jum’at Taqwa. Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan seluruh warga sekolah dasar kepada Allah Swt.

Kegiatan Jum’at Taqwa merupakan kegiatan yang dilaksanakan setiap hari jum’at pagi yang bergerak dibidang keagamaan. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswa tentang ajaran agamanya. Selain itu program ini bertujuan juga untuk meningkatkan ketaqwaan dan keimanan seluruh keluarga SDN 2 Purwawinangun kepada Allah SWT. 

 

Adapun kegiatan-kegiatan  pada program ini adalah sholat Dhuha bersama, hapalan surat pendek, yasinan, infaq Jum’at, dan ceramah islami bersama seluruh dewan guru dan peserta didik.


Program Jum’at Takwa merupakan kegiatan dalam rangka membina karakter peserta didiknya untuk menghambat pengaruh yang merusak akhlak siswa serta membangun sekolah yang bernuasa religi.





Program Jum’at Takwa dilaksanakan setiap Jum’at pukul 07.30 s.d. 08.30 WIB sebelum siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas. Berlangsung di halaman sekolah, program ini diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan yang telah di jadwalkan dan diikuti seluruh warga sekolah, seperti murid, kepala sekolah, dewan guru, maupun penjaga sekolah.


Jum’at takwa merupakan perwujudan visi dan misi sekolah untuk menciptakan siswa yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT serta berakhlaq mulia dalam membentuk profil pelajar Pancasila. 





Perasaan (Feeling)

Terbentuknya karakter siswa yang baik sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing tentu saja akan membuat perasaan senang dan bangga. Apalagi ketika kegiatan tersebut dapat membawa dampak yang baik bagi kehidupan mereka. Dan melihat mereka menjadi pribadi-pribadi yang unggul dan berakhlak mulia mulia akan menimbulkan perasaan Bahagia yang sukar untuk diungkapkan.

Akahlak yang baik akan menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan di lingkungan keluarga maupun masyarakatnya serta terbentuknya murid yang mempunyai akhak yang mulia.



 

Pembelajaran (Finding)

Mempersiapkan generasi yang mumpuni dan berakhlak mulia perlu dipersiapkan sedini mungkin. Maka peran Pendidikan di sekolah sangatlah penting, terutama Pendidikan paling dasar, yaitu di sekolah dasar. Hal tersebut yang membuat SDN 2 Purwawinangun mengeluarkan program-program yang positif dalam rangka membentuk akhlak dan karakter peserta didik.

Dalam menghadapi tantangan kehidupan kedepan yang semakin komplek dan arus globalisasi yang semakin deras dan tidak dapat dibendung, maka diperlukan pondasi yang kokoh dan harus dimiliki oleh para peserta didik. Pondasi tersebut adalah akhlak dan karakter yang baik dan mulia. Peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.



 


Penerapan (Finding)

Program Jum’at Taqwa ini merupakan kegiatan yang positif dan memerlukan dukungan dari berbagai pihak sehingga program Jum’at Taqwa bisa terus terlaksana sesuai dengan rencana yang telah disusun. Dengan kontinuitas ini, maka para peserta didik juga akan selalu istiqomah di dalam menjalankan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga diharapkan akan terbentuk pribadi-pribadi yang unggul di masa depan. Terutama pribadi yang memegang teguh ajaran agamanya, pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan dan berakhlak mulia.

Program ini akan selalu dilaksanakan evaluasi untuk mengatahui tingkat kekurangan maupun kelebihannya, agar kekurangan yang ada dapat terus diperbaiki sehingga program ini akan menjadi lebih baik lagi.





Jumat, 18 Februari 2022

3.1.a.9. Koneksi Antarmateri

 



Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Menurut beliau, untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama.

Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, Agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Pendidikan merupakan sebuah upaya nyata untuk memerdekakan manusia secara utuh. Merdeka lahiriah maupun bathiniah, baik sebagai makhluk individu maupun anggota masyarakat dan warga dunia. Tidak bergantung kepada orang lain serta bisa bersandar atas kekuatan sendiri

Filosofi Pratap triloka merupakan semboyan yang sampai saat ini menjadi panutan dan pedoman di dunia Pendidikan Indonesia. Adapaun Pratap triloka tersebut adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, yaitu pemberian teladan, Ing Madya Mangun Karsa, yaitu memberi semangat dan bimbingan, serta  Tut Wuri Handayani yaitu memberikan dorongan atau morivasi.

Filosopi Pratap triloka tersebut berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran, kita dituntut untuk menjadi teladan, pemberi semangat, bimbingan, dan mampu memberikan dorongan atau motivasi. Menurut Ki Hajar Dewantara, yang menjadi focus atau sentral dari Pendidikan adalah murid. Untuk itu, sebagai pemimpim pembelajaran juga Ketika pengambilan suatu keputusan  harus berpihak kepada murid.

Bagaimana suatu keputusan tersebut dapat mengakomodir kebutuhan dari para murid agar mereka dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya masing-masing.

 

Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang terdapat atau tertanam dalam diri, akan berpengaruh kepda prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Apabila dalam diri kita tertanam nilai-nilai kejujuran atau kepatuhan terhadap aturan, maka kemungkinan kita tidak mau melanggar aturan di dalam mengambil suatu keputusan.

Apabila dalam diri kita lebih kuat rasa peduli dan mempunyai perasaan yang peka, maka kita condong memakai prinsip berbasis peduli.

Setiap guru seyogyanya memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh  ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilemma etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.

 

Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’(bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Coaching merupakan proses menuntun. Menuntun coachee untuk menemukan solusi dari permasalahannya sendiri. 

Materi coaching sangat mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan. Coaching juga memberikan kesempatan untuk mengetahui potensi dan kelemahan coachee sehingga pada akhirnya coachee akan bisa membuat keputusan yang baik dan untuk dirinya sendiri. Keterampilan coaching akan membantu melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh coach untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.

 

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

 

Pengambilan keputusan dipengaruhi oleh berbagai aspek, diantaranya aspek sosial dan emosional. Keputusan yang bijaksana dan tepat janganlah terbawa oleh suasana emosi, tapi harus benar-benar tenang dan bijaksana mengesampingkan berbagai aspek negatif yang dapat mempengaruhi sebuah keputusan. Begitu pula dengan aspek sosial, dimana keputusan yang diambil harus benar-benar bijaksana dan tepat dengan resiko yang kecil dan dapat mengakomodir semua kepentingan.

 

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.


Sebagai pemimpim pembelajaran, yang menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan suatu keputusan adalah murid. Kita harus mampu mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi dengan melihat permasalahan dari berbagai kaca mata dan mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilemma etika ataukah bujukan moral.

 

Ketika dihadapkan terhadap suatu kasus, baik masalah moral maupun etika, sebagai seorang pemimpim pembelajaran secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan.

 

Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.

 

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui tahapan-tahapan yang tepat, seperti memperhatikan 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Jika tahapan-tahapan tersebut ditempuh dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang baik. Dan keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman karena keputusan yang diambil tersebut dapat mengakomodir semua pihak.

 

Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?


Dalam pengambilan keputusan, tentu saja suatu saat kita akan dihadapkan pada suatu kesulitan. Adapun kesulitan tersebut adalah

  • Perasaan khawatir keputusan yang diambil tepat atau tidak
  • Rasa takut mengecewakan orang lain
  • Pemahaman yang tidak sama terhadap suatu kasus sehingga menghasilkan keputusan yang tidak sama pula
  • Perbedaan pandangan dengan orang lain

Masalah pengambilan keputusan ini memang Kembali kepada perubahan paradigma di lingkungna masing-masing.

 

Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?


Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Sehingga, pengambilan keputusan yang kita ambil sebagai pemimpim pembelajaran, haruslah berpihak kepada murid, tentu saja agar mereka dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya masing-masing. Mencapai kebahagiaan dan keselamatan.

 


Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?


Yang menjadi pusat dalam Pendidikan adalah murid. Jadi, apapun yang kita lakukan sebagai pendidik, tujuannya hanya murid. Begitu juga dalam pengambilan suatu keputusan, tentu harus berpihak kepada murid.

 

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka dan dapat menapai kebahagian serta keselamatan.

 


Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Modul tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dengan modul-modul lainnya, seperti modul pertama tentang paradigma dan visi misi guru penggerak serta modul pembelajaran yang berpihak kepada murid mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Dimana semua yang kita pelajari selaku CGP merupakan pengetahuan dan keterampilan yang harus dimiliki sebagai guru, sebagai pemimpim pembelajaran yang berpihak kepada murid agar mereka dapat berkembang secara kholistik.

 

 

 

 

 

Senin, 01 November 2021

Aksi Nyata - Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

    

A.    Latar Belakang

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Menurut beliau, untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama. Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Sebagai seorang guru penggerak sudah semestinya berupaya tanpa henti untuk mengasah perannya sebagai pemimpin pembelajaran. Peserta didik adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa.

Pendidikan merupakan usaha menciptakan peradaban dan memerdekaan. Memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME serta berakhlak mulia, kebhinekaan global, bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri.

Kita sebagai pendidik harus mengetahui nilai dan peran guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang guru terutama calon guru penggerak. Salah satu pengetahuan yang perlu kita miliki adalah disiplin postitif. Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainnya).


B.     Tujuan

Disiplin positif bertujuan untuk bekerja sama dengan siswa dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku yang baik yang akan membuat budaya positif di sekolah. Budaya positif sekolah merupakan suatu kualitas sekolah di kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah.  Bahwa budaya sekolah adalah keseluruhan dari latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuh kembangnya kecerdasan, keterampilan, dan aktifitas para siswanya. 


C.     Deskripsi Aksi Nyata

Langkah pertama yang saya lakukan adalah berbagi dan sharing dengan rekan sejawat di sekolah tentang budaya positif. Dimana selama ini kita sering menerapkan peraturan yang dibuat oleh sekolah dan harus dipatuhi oleh warga sekolah. Dengan melibatkan warga sekolah, khususnya peserta didik maka akan terbentuk sebuah kesepakatan kelas atau sekolah yang akan dipatuhi dan dijalankan dengan kesadaran mereka karena hal tersebut timbul dari diri mereka sendiri.

Langkah selanjtunya yaitu merencanakan kesepakatan-kesepakatan yang bersifat positif dan terbuka serta demokratis untuk anak didik saya khususnya dan sekolah pada umumnya. Dalam Perencanaan kesepakatan tersebut dapat di beri penekanan bahwa kesepakatan tersebut apakah dapat diterima dengan baik atau tidak sehingga kita dapat memberikan umpan balik kepada siswa ataupun sekolah.

Untuk menerapkan budaya positif di kelas saya mensosialisasikan kepada peserta didik tentang budaya postif. Saya meminta murid-murid di kelas untuk membayangkan bentuk kelas yang mereka impikan. Dalam kesempatan tersebut, bentuk kelas yang mereka impikan yaitu:

1.      Bersih

2.      Indah

3.      Nyaman

4.      Displin

5.      Saling membantu

6.      Tidak saling mengejek

7.      Saling menghargai

8.      Bermusyawarah

9.      Aktif

10.  Semangat


 Berdasarkan point-point atau inti-inti yang dikemukakan oleh kelas 6, maka dibuatlah kesepakatan kelasnya, yang disebut “Kita Suka”, yaitu:

1.      Kita suka lingkungan yang bersih, indah, dan nyaman untuk belajar

2.      Kita suka saling membantu dan saling menghargai

3.      Kita suka hidup disiplin

4.      Kita suka tidak saling mengejek dan berteman dengan siapa saja

5.      Kita suka bermusyawarah

6.      Kita suka aktif dan semangat dalam belajar


Kesepakatan kelas itu akhirnya dijadikan dan disyahkan menjadi sebuah “Keyakinan Kelas” yang akan dengan penuh kesadaran dilaksanakan oleh warga sekolah, khususnya kelas 6. Kesepakatan kelas tersebut nantinya akan ditulis dan ditempelkan di papan kelas dan akan menjadi sebuah keyakinan kelas yang harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.


D.    Evaluasi dan Tindak Lanjut

Keterlaksanaan budaya positif tersebut, terutama tentang kesepakatan kelas akan dievaluasi secara berkelanjutan apakah sudah berjalan sesuai dengan harapan atau belum dan nantinya akan diperbaiki jika memang ada kekurangan dalam pelaksanaannya.

 

E.     Dokumentasi







 

 

Program Guru Penggerak

  

Guru Penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila

Untuk mendukung tercapainya tujuan itu, Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dijalankan dengan menekankan pada kompetensi kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) yang mencakup komunitas praktik, pembelajaran sosial dan emosional, pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai perkembangan murid, dan kompetensi lain dalam pengembangan diri dan sekolah.

Guru yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik. Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan.

Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru.

Guru penggerak akan berperan untuk:

  • Menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya
  • Menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah
  • Mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah
  • Membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
  • Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah

Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta, Kemendikbud mengembangkan rangkaian kebijakan Merdeka Belajar pada tahun 2019. Kebijakan ini dicetuskan sebagai langkah awal melakukan lompatan di bidang pendidikan.

Tujuannya adalah mengubah pola pikir publik dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi komunitas penggerak pendidikan. Filosofi “Merdeka Belajar” disarikan dari asas penciptaan manusia yang merdeka memilih jalan hidupnya dengan bekal akal, hati, dan jasad sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, merdeka belajar dimaknai kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan.

Sebagai rangkaian kebijakan Merdeka Belajar, Kemendikbud telah mengeluarkan empat paket kebijakan, yang pada tahap pertama meliputi:

  1. Ujian Sekolah Berstandar Nasional diganti ujian (asesmen) yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Hal ini berimplikasi pada guru dan satuan pendidikan lebih merdeka dalam menilai belajar peserta didik
  2. Ujian Nasional tahun 2021 diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter yang meniscayakan penyesuaian tata kelola penilaian pembelajaran di level satuan pendidikan maupun pada level nasional.
  3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berimplikasi pada kebebasan guru untuk dapat memilih, membuat, dan menggunakan format RPP secara efisien dan efektif sehingga guru memiliki banyak waktu untuk mengelola pembelajaran.
  4. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah.

Keempat kebijakan tersebut tentu saja belum cukup untuk menghasilkan manusia unggul melalui pendidikan. Hal krusial yang mendasar untuk segera dilakukan adalah mewujudkan tersedianya guru Indonesia yang berdaya dan memberdayakan. Guru Indonesia yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik.

Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan. Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru.

 

2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1


1.   Dari apa yang sudah Anda pelajari, materi apa yang menurut Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran di kelas Anda?

Materi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait pembelajaran di kelas adalah materi yang dibutuhkan dan bermanfaat dalam kehidupan peserta didik.

Materi yang diharapkan membantu mereka berhasil dalam kehidupannya dan dapat menumbuhkan potensi dari setiap peserta didik.

Dan yang paling penting, bagaimana materi itu dapat diajarkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid, baik dari kesiapan belajar, minat, maupun dari profil belajar murid tersebut. Hal ini bertujuan agar setiap peserta didik terpenuhi kebutuhan belajarnya masing-masing.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang dianggap tepat dan merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.  Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid

2.     Apa yang menurut Anda sulit untuk diterapkan? Mengapa menurut Anda hal tersebut sulit diterapkan?

Ada beberapa hal yang masih menjadi kendala bagi guru untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Pertama  adalah dalam memetakan kebutuhan belajar murid. Bagaimana cara memetakan kebutuhan belajar dari setiap murid, seperti dari kebutuhan belajar dari kesiapan belajar, minat, maupun profil belajar murid.

Hal ini memerlukan kemampuan guru untuk menemukan sebuah cara atau metode yang efektif dan tepat agar hasil pemetaan memang benar-benar sesuai dengan potensi dan karakter dari setiap masing-masing, sehingga setiap peserta didik terakomodir kebutuhan belajarnya.

Yang kedua adalah bagaimana mendesain pembelajaran yang berdiferensiasi, baik dari tahapan perencanaan sampai ke tahap evaluasi. Guru benar-benar harus mampu menerapkan strategi yang tepat di dalam mengelola pembelajaran berdiferensiasi. Contohnya bagaimana mendesain pembelajaran dari 29 anak yang mempunyai minat yang berbeda-beda, tanpa seorang pun peserta didik yang tidak terakomodir atau terpenuhi kebutuhan belajarnya.

3.      Jika Anda harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan Apa yang Anda perlukan? Kemana atau bagaimana Anda akan dapat mengakses dukungan tersebut.

Dukungan yang diperlukan adalah pertama dari kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan, dimana kepala sekolah selalu mendukung setiap kegiatan pembelajaran yang berpihak kepada murid.

Selanjutnya dari rekan guru, dimana teman sejawat atau rekan guru harus mempunyai pemahaman bahwa setiap peserta didik mempunyai potensi dan karakteristik yang bermacam-macam. Teman sejawat hendaknya dapat mengakomodir setiap potensi dan karakter tersebut di dalam setiap pembelajaran. Guru hendaknya jangan memaksanakan suatu materi harus dikuasi oleh siswa dengan cara dan metode yang sama.

Yang terakhir tentu saja dari orang tua murid. Dimana mereka juga harus mempunyai pemahaman bahwa anak-anak mereka mempunyai potensi, keunikan, atau kelebihan masing-masing. Dan mereka akan berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya itu.