Senin, 01 November 2021

Aksi Nyata - Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

    

A.    Latar Belakang

Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. Menurut beliau, untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama. Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Sebagai seorang guru penggerak sudah semestinya berupaya tanpa henti untuk mengasah perannya sebagai pemimpin pembelajaran. Peserta didik adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa.

Pendidikan merupakan usaha menciptakan peradaban dan memerdekaan. Memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME serta berakhlak mulia, kebhinekaan global, bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri.

Kita sebagai pendidik harus mengetahui nilai dan peran guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang guru terutama calon guru penggerak. Salah satu pengetahuan yang perlu kita miliki adalah disiplin postitif. Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainnya).


B.     Tujuan

Disiplin positif bertujuan untuk bekerja sama dengan siswa dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku yang baik yang akan membuat budaya positif di sekolah. Budaya positif sekolah merupakan suatu kualitas sekolah di kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kekuatan dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah.  Bahwa budaya sekolah adalah keseluruhan dari latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuh kembangnya kecerdasan, keterampilan, dan aktifitas para siswanya. 


C.     Deskripsi Aksi Nyata

Langkah pertama yang saya lakukan adalah berbagi dan sharing dengan rekan sejawat di sekolah tentang budaya positif. Dimana selama ini kita sering menerapkan peraturan yang dibuat oleh sekolah dan harus dipatuhi oleh warga sekolah. Dengan melibatkan warga sekolah, khususnya peserta didik maka akan terbentuk sebuah kesepakatan kelas atau sekolah yang akan dipatuhi dan dijalankan dengan kesadaran mereka karena hal tersebut timbul dari diri mereka sendiri.

Langkah selanjtunya yaitu merencanakan kesepakatan-kesepakatan yang bersifat positif dan terbuka serta demokratis untuk anak didik saya khususnya dan sekolah pada umumnya. Dalam Perencanaan kesepakatan tersebut dapat di beri penekanan bahwa kesepakatan tersebut apakah dapat diterima dengan baik atau tidak sehingga kita dapat memberikan umpan balik kepada siswa ataupun sekolah.

Untuk menerapkan budaya positif di kelas saya mensosialisasikan kepada peserta didik tentang budaya postif. Saya meminta murid-murid di kelas untuk membayangkan bentuk kelas yang mereka impikan. Dalam kesempatan tersebut, bentuk kelas yang mereka impikan yaitu:

1.      Bersih

2.      Indah

3.      Nyaman

4.      Displin

5.      Saling membantu

6.      Tidak saling mengejek

7.      Saling menghargai

8.      Bermusyawarah

9.      Aktif

10.  Semangat


 Berdasarkan point-point atau inti-inti yang dikemukakan oleh kelas 6, maka dibuatlah kesepakatan kelasnya, yang disebut “Kita Suka”, yaitu:

1.      Kita suka lingkungan yang bersih, indah, dan nyaman untuk belajar

2.      Kita suka saling membantu dan saling menghargai

3.      Kita suka hidup disiplin

4.      Kita suka tidak saling mengejek dan berteman dengan siapa saja

5.      Kita suka bermusyawarah

6.      Kita suka aktif dan semangat dalam belajar


Kesepakatan kelas itu akhirnya dijadikan dan disyahkan menjadi sebuah “Keyakinan Kelas” yang akan dengan penuh kesadaran dilaksanakan oleh warga sekolah, khususnya kelas 6. Kesepakatan kelas tersebut nantinya akan ditulis dan ditempelkan di papan kelas dan akan menjadi sebuah keyakinan kelas yang harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.


D.    Evaluasi dan Tindak Lanjut

Keterlaksanaan budaya positif tersebut, terutama tentang kesepakatan kelas akan dievaluasi secara berkelanjutan apakah sudah berjalan sesuai dengan harapan atau belum dan nantinya akan diperbaiki jika memang ada kekurangan dalam pelaksanaannya.

 

E.     Dokumentasi







 

 

Program Guru Penggerak

  

Guru Penggerak merupakan episode kelima dari rangkaian kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan dijalankan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GTK).

Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat kepada murid, serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan profil Pelajar Pancasila

Untuk mendukung tercapainya tujuan itu, Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dijalankan dengan menekankan pada kompetensi kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) yang mencakup komunitas praktik, pembelajaran sosial dan emosional, pembelajaran berdiferensiasi yang sesuai perkembangan murid, dan kompetensi lain dalam pengembangan diri dan sekolah.

Guru yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik. Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan.

Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru.

Guru penggerak akan berperan untuk:

  • Menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya
  • Menjadi Pengajar Praktik bagi rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah
  • Mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah
  • Membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antara guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
  • Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah

Untuk mewujudkan peningkatan kualitas pendidikan dan manajemen talenta, Kemendikbud mengembangkan rangkaian kebijakan Merdeka Belajar pada tahun 2019. Kebijakan ini dicetuskan sebagai langkah awal melakukan lompatan di bidang pendidikan.

Tujuannya adalah mengubah pola pikir publik dan pemangku kepentingan pendidikan menjadi komunitas penggerak pendidikan. Filosofi “Merdeka Belajar” disarikan dari asas penciptaan manusia yang merdeka memilih jalan hidupnya dengan bekal akal, hati, dan jasad sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dengan demikian, merdeka belajar dimaknai kemerdekaan belajar yang memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar senyaman mungkin dalam suasana bahagia tanpa adanya rasa tertekan.

Sebagai rangkaian kebijakan Merdeka Belajar, Kemendikbud telah mengeluarkan empat paket kebijakan, yang pada tahap pertama meliputi:

  1. Ujian Sekolah Berstandar Nasional diganti ujian (asesmen) yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan. Hal ini berimplikasi pada guru dan satuan pendidikan lebih merdeka dalam menilai belajar peserta didik
  2. Ujian Nasional tahun 2021 diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter yang meniscayakan penyesuaian tata kelola penilaian pembelajaran di level satuan pendidikan maupun pada level nasional.
  3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berimplikasi pada kebebasan guru untuk dapat memilih, membuat, dan menggunakan format RPP secara efisien dan efektif sehingga guru memiliki banyak waktu untuk mengelola pembelajaran.
  4. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah.

Keempat kebijakan tersebut tentu saja belum cukup untuk menghasilkan manusia unggul melalui pendidikan. Hal krusial yang mendasar untuk segera dilakukan adalah mewujudkan tersedianya guru Indonesia yang berdaya dan memberdayakan. Guru Indonesia yang diharapkan tersebut mencirikan lima karakter yaitu berjiwa nasionalisme Indonesia, bernalar, pembelajar, profesional, dan berorientasi pada peserta didik.

Berbagai kebijakan dan program sedang diupayakan untuk hal tersebut dengan melibatkan berbagai pihak menjadi satu ekosistem pendidikan yang bergerak dan bersinergi dalam satu pola pikir yang sama antara masyarakat, satuan pendidikan, dan pemangku kebijakan. Program tersebut dinamakan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) yang sejatinya mengembangkan pengalaman pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan guru sebagai bagian dari Kebijakan Merdeka Belajar melalui pendidikan guru.

 

2.1.a.6. Refleksi Terbimbing - Modul 2.1


1.   Dari apa yang sudah Anda pelajari, materi apa yang menurut Anda dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait dengan pembelajaran di kelas Anda?

Materi yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang terkait pembelajaran di kelas adalah materi yang dibutuhkan dan bermanfaat dalam kehidupan peserta didik.

Materi yang diharapkan membantu mereka berhasil dalam kehidupannya dan dapat menumbuhkan potensi dari setiap peserta didik.

Dan yang paling penting, bagaimana materi itu dapat diajarkan sesuai dengan kebutuhan belajar murid, baik dari kesiapan belajar, minat, maupun dari profil belajar murid tersebut. Hal ini bertujuan agar setiap peserta didik terpenuhi kebutuhan belajarnya masing-masing.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang dianggap tepat dan merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.  Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid

2.     Apa yang menurut Anda sulit untuk diterapkan? Mengapa menurut Anda hal tersebut sulit diterapkan?

Ada beberapa hal yang masih menjadi kendala bagi guru untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Pertama  adalah dalam memetakan kebutuhan belajar murid. Bagaimana cara memetakan kebutuhan belajar dari setiap murid, seperti dari kebutuhan belajar dari kesiapan belajar, minat, maupun profil belajar murid.

Hal ini memerlukan kemampuan guru untuk menemukan sebuah cara atau metode yang efektif dan tepat agar hasil pemetaan memang benar-benar sesuai dengan potensi dan karakter dari setiap masing-masing, sehingga setiap peserta didik terakomodir kebutuhan belajarnya.

Yang kedua adalah bagaimana mendesain pembelajaran yang berdiferensiasi, baik dari tahapan perencanaan sampai ke tahap evaluasi. Guru benar-benar harus mampu menerapkan strategi yang tepat di dalam mengelola pembelajaran berdiferensiasi. Contohnya bagaimana mendesain pembelajaran dari 29 anak yang mempunyai minat yang berbeda-beda, tanpa seorang pun peserta didik yang tidak terakomodir atau terpenuhi kebutuhan belajarnya.

3.      Jika Anda harus menerapkan hal yang sulit tersebut, dukungan Apa yang Anda perlukan? Kemana atau bagaimana Anda akan dapat mengakses dukungan tersebut.

Dukungan yang diperlukan adalah pertama dari kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan, dimana kepala sekolah selalu mendukung setiap kegiatan pembelajaran yang berpihak kepada murid.

Selanjutnya dari rekan guru, dimana teman sejawat atau rekan guru harus mempunyai pemahaman bahwa setiap peserta didik mempunyai potensi dan karakteristik yang bermacam-macam. Teman sejawat hendaknya dapat mengakomodir setiap potensi dan karakter tersebut di dalam setiap pembelajaran. Guru hendaknya jangan memaksanakan suatu materi harus dikuasi oleh siswa dengan cara dan metode yang sama.

Yang terakhir tentu saja dari orang tua murid. Dimana mereka juga harus mempunyai pemahaman bahwa anak-anak mereka mempunyai potensi, keunikan, atau kelebihan masing-masing. Dan mereka akan berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya itu.